cool hit counter

PDM Kota Semarang - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Semarang
.: Home > Khutbah 'Idul Adha

Homepage

Khutbah 'Idul Adha

 HAJI DAN KURBAN:

KETAATAN, PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

Shared by Nurbini

 

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى، وَ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى، وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى .أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ  نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكِرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا. وَ صَلَّ اللهُ عَلَى حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، نِبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَ الْوَفَا، وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْجَزَا .أَمَّا بَعْدُ:فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.

الله أكبر 3 x الله أكبر 3 x الله أكبر 3 x

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Alhamdulillah. Milik-Nya segala keagungan. Untuknya seluruh pujian. Bagi-Nya segala sanjungan. Dialah Zat Yang Maha Pengasih. Maha Penyayang.

Shalawat dan salam semoga senantiasa Dia limpahkan, kepada hamba sekaligus Rasul pilihan. Baginda Nabi Muhammad saw. sang teladan. Shalawat dan salam semoga juga terlimpah kepada keluarga, para sahabat dan umat beliau, hingga akhir zaman. Amiin.

Ma’asyiral Muslimin rh,  Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.

Saat ini, ada jutaan kaum Muslim. Dari seluruh penjuru bumi. Berkumpul di Tanah Suci. Memenuhi panggilan Ilahi. Menunaikan ibadah haji. Setiap tahun sekali. Begitulah ritual haji. Selalu membuat panorama yang amat memikat hati. Membuat siapapun berhasrat menginjakkan kaki. Di Tanah kelahiran Baginda Nabi SAW.

Di tempat lain. Di seluruh dunia. Termasuk kita di sini. Hari ini. Juga tak mau ketinggalan. Pada Hari Raya Idul Adha ini. Tak berhenti lisan kita berzikir. Tak jeda bibir kita bertakbir. Membuat diri kita makin terasa kerdil. Di hadapan Zat Yang Maha Besar.

الله أكبر 3 x  و لله الحمد

Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.

Sebagaimana kita saksikan. Sebagaimana juga kita rasakan. Di Tanah Air, Idul Adha tahun ini sama-sama kita rayakan. Saat bangsa ini dirundung oleh ragam ujian. Tampak nyata hasrat untuk saling berebut kekuasaan. Tampak jelas nafsu untuk terus mempertahankan kekuasaan.

Ego pribadi. Kehendak golongan. Kepentingan partai. Tak jarang mendominasi. Saling sikut berebut kursi. Masing-masing siap mengorbankan apa saja. Bahkan mengorbankan siapa saja. Demi jabatan. Demi kekuasaan. Para pendukung dan pengikutnya pun setali tiga uang. Siap berkonflik bahkan berperang dengan pihak lawan. Demi hasrat dan kepentingan sang junjungan.

Saat yang sama. Rakyat terus ditimpa nestapa. Kemiskinan. Pengangguran. Harga-harga kebutuhan pokok yang terus melonjak. Utang negara yang terus menumpuk. Juga aneka persoalan lainnya. Ironisnya, semua derita rakyat itu terjadi di tengah keberlimpahan kekayaan alam negeri ini.

Minyak bumi. Emas. Perak. Tembaga. Aneka mineral. Kekayaan hayati. Hutan belantara. Kekayaan laut. Juga banyak yang lainnya. Semuanya memang terhampar di seantero negeri ini. Sayang. Semua kekayaan itu tak banyak rakyat nikmati. Sebab sebagian besarnya telah dikuasai oleh pihak asing, swasta dan pribadi-pribadi.

Di sisi lain, bencana demi bencana terus mengguncang negeri ini. Yang terkini adalah gempa bumi yang bertubi-tubi. Di NTB dan Bali. Semua ini tentu makin menambah derita penduduk negeri tercinta ini.  

Namun demikian, Saudara-saudaraku sekalian, hendaknya kita selalu menyadari. Semua duka pada akhirnya akan terhenti. Kecuali duka karena meninggalkan petunjuk Baginda Nabi SAW. Semua bahagia yang mereka nikmati pasti akan sirna. Kecuali bahagia saat kita diakui sebagai umatnya. Tentu saat kita benar-benar meneladani ketaatan, perjuangan dan pergorbanannya di jalan Allah SWT. 

الله أكبر x3  و لله الحمد

Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.

Karena itu, di tengah nestapa dan derita bangsa ini, juga dalam momen Idul Adha yang begitu syahdu tahun ini, mari kita bayangkan sejenak. Peristiwa penting sekitar 14 abad yang lewat. Peristiwa yang dikenal dengan Haji Wada. Beberapa bulan saja sebelum Baginda Nabi Muhammad SAW. menghadap Allah SWT.

Selama Haji Wada Beliau SAW. berkhutbah di hadapan lebih dari 100 ribu jamaah haji. Tak hanya sekali. Beliau berkhutbah di Hari Arafah, Hari Idul Adha juga Hari Tasyriq. Dengarkanlah baik-baik sebagian kecil dari isi khutbah yang beliau sampaikan berikut ini:

Wahai manusia, perhatikanlah kata-kataku ini. Aku tak tahu, boleh jadi sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, aku tak lagi akan bertemu dengan kalian.

Wahai manusia, sungguh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian, seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masanya kalian menghadap Tuhan... Saat itu kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian...

Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali pada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku sehingga menjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain...

Ingatlah baik-baik, hendaklah orang yang hadir pada saat ini menyampaikan nasihat ini kepada yang tidak tidak hadir. Boleh jadi sebagian dari mereka yang mendengar dari mulut orang kedua lebih dapat memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung... (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau pun bersabda:

Wahai manusia, ingatlah, Tuhan kalian satu. Bapak kalian juga satu.

Ingatlah, tak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa non-Arab. Tak ada pula keunggulan bangsa non-Arab atas bangsa Arab. Tidak pula orang berkulit putih atas orang berkulit hitam. Tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit putih. Kecuali karena ketakwaannya... (HR Ahmad).

Beliau juga bersabda:

Wahai manusia, sesungguhnya segala hal yang berasal dari tradisi jahiliyah telah dihapus di bawah dua telapak kakiku ini...Riba jahiliyah pun telah dilenyapkan...

Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan wanita (istri). Sebab kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan telah menghalalkan farji-farji mereka dengan kalimat-Nya...

Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lama jika kalian berpegang teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya... (HR Ibnu Khuzaimah).

الله أكبر x3  و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin rh,  Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.

Dari apa yang Nabi SAW. sampaikan di atas, ada sejumlah hal yang beliau nasihatkan kepada kita. Diantaranya:

Pertama, kita diingatkan oleh beliau untuk tidak merasa unggul dari bangsa lain. Tak selayaknya bangsa Arab merasa lebih unggul atas bangsa non-Arab. Tak sepatutnya bangsa non-Arab, termasuk kita di Nusantara ini, merasa lebih unggul dari bangsa Arab. Sebab keunggulan manusia atas manusia lain di sisi Allah SWT hanya karena ketakwaannya. Takwa tentu saja harus dibuktikan dengan ketaatan total atas seluruh perintah dan larangan-Nya. Takwa tentu wajib diwujudkan dengan menjalankan semua syariah-Nya.

Kedua, kita diperintahkan oleh beliau untuk menjaga darah, harta dan kehormatan sesama. Tak boleh saling menumpahkan darah. Haram saling merampas harta. Terlarang saling menodai kehormatan sesama. Karena itu perintah untuk siap berkelahi dengan sesama saudara, dari siapapun datangnya, tak selayaknya kita ikuti. Sebab itu berpotensi untuk menumpahkan darah. Berpeluang mencederai harta. Bisa berujung pada penodaan kehormatan sesame manusia, apalagi sesame muslim.

Saudara-saudaraku sekalian, Jamaah Idul Adha yang Allah muliakan.

Ketiga, kita diperintahkan oleh beliau agar meninggalkan semua tradisi jahiliyah. Diantaranya riba. Dalam segala bentuknya. Sayang. Hari ini riba bukan saja merajalela. Riba bahkan telah menjadi pilar ekonomi yang utama. Termasuk di negeri Muslim terbesar ini. Tidak aneh jika utang ribawi, dengan bunga sangat tinggi, sangat berpeluang membangkrutkan negeri ini. Akankah bangsa ini terus mengabaikan nasihat Baginda Nabi SAW. ini? Padahal jelas, nasihat beliau untuk menjauhi riba lebih layak ditujukan kepada kita hari ini daripada ditujukan kepada para sahabat. Sebab pada masa para sahabat, riba sudah sejak awal dicampakkan dan dibuang sejauh-jauhnya. 

Keempat, kita diperintahkan oleh beliau untuk memuliakan kaum wanita (istri-istri) kita. Tak sepatutnya kita menyakiti hati mereka. Tak selayaknya kita menista mereka. Sebab mereka adalah sahabat kita. Dalam suka dan duka.

Kelima, kita diharuskan oleh beliau untuk senantiasa memelihara tali persaudaraan. Dengan sesama kaum Muslim. Layaknya saudara. Tak boleh saling mencerca. Haram saling mencederai. Terlarang saling mencaci-maki. Tercela jika sampai saling mem-bully. Sayang. Hari ini tali persaudaraan seolah hilang. Bahkan antar kelompok umat Islam bisa saling berhadap-hadapan. Asal berbeda mazhab, bisa saling bertindak tak beradab. Asal beda paham, bisa saling melemparkan tudingan. Asal beda organisasi, bisa saling mem-bully. Asal beda kepentingan, bisa saling menggunting dalam lipatan. Tak ada lagi ruh berjamaah. Tak ada lagi rasa kebersamaan. Mereka seolah lupa, kaum Muslim itu bersaudara. Mereka harusnya saling menguatkan. Bukan saling melemahkan.

Keenam, kita pun diharuskan oleh beliau untuk selalu menyampaikan nasihat kepada orang lain. Sebab, kata Baginda Nabi SAW., agama adalah nasihat. Di antara nasihat yang paling utama adalah nasihat yang ditujukan kepada penguasa. Karena itu sudah sepantasnya kita tak perlu takut untuk menyampaikan nasihat kepada penguasa. Agar mereka tidak terus dalam kesesatan. Agar mereka tidak terus dalam penyimpangan. Agar mereka tidak terus melakukan kezaliman. Kezaliman terbesar penguasa tidak lain saat mereka tidak menerapkan al-Quran. Saat mereka tidak menerapkan syariah Islam. Itulah yang Allah SWT tegaskan: 

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Siapa saja yang tidak memerintah dengan apa yang Allah turunkan (al-Quran), mereka itulah kaum zalim.” (QS al-Maidah [5]: 45).

Karena itu tugas kitalah, segenap komponen umat Islam, untuk terus mendorong penguasa agar memerintah dengan al-Quran. Agar mereka berhukum hanya dengan hukum Islam. Di seluruh ruang-ruang kehidupan.

Ketujuh, kita diwajibkan oleh beliau untuk selalu berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Nabi SAW. telah menjamin. Siapapun yang istiqamah berpegang teguh pada keduanya, tak akan pernah tersesat selama-lamanya. 

Sayang. Apa yang dipesankan Nabi SAW. 14 abad lalu, tak banyak diindahkan oleh kita hari ini. Al-Quran dan as-Sunnah tak lagi kita pedulikan. Kecuali sebatas bacaan. Isinya kita abaikan. Hukum-hukumnya kita campakkan. Pantas, saat ini, bangsa ini seperti tersesat jalan. Pantas pula negeri ini dirundung aneka persoalan. Lalu sampai kapan al-Quran dan as-Sunnah akan terus kita abaikan?  

الله أكبر x3  و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin rh

Sudah maklum. Selain Rasulullah SAW. yang wajib kita amalkan seluruh ajarannya dan semua nasihatnya, ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan Idul Adha. Dialah Nabiyullah Ibrahim AS. Di dalam QS al-Shafat [37] ayat 102, Allah SWT mengisahkan. Bagaimana Ibrahim as., dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah. Kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman. Bagi umat Islam. Termasuk kita hari ini. Sebab bukankah Allah SWT pun telah berfirman:

لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتَى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ

“Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai.” (QS Ali Imran [3]: 92).

Nabiyullah Ibrahim as. telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta. Bahkan nyawa putra semata wayangnya—yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya—ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Zat Yang lebih ia cintai dari apapun.

Pengorbanan yang amat besar dari Nabiyullah Ibrahim AS. ini tentu tak lepas dari begitu kokohnya iman yang tertancap kuat di dadanya. Inilah yang menjadi dorongan utama Ibrahim AS. untuk secara benar dan secara total menghambakan diri (beribadah) kepada sang Pencipta, Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin rh

Terkait penghambaan (ibadah) secara benar dan secara total kepada Allah SWT ini, renungkanlah firman Allah SWT berikut:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Begitu pula mereka menjadikan Al-Masih putra Maryam. Padahal mereka telah diperintahkan beribadah hanya kepada Tuhan Yang Satu. Tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari semua kesyirikan mereka.” (QS at-Taubah [9]: 31).

Saat Rasulullah SAW. membaca ayat ini di hadapan Adi bin Hatim, yang saat itu masih Nasrani, sontak dia menyangkal. Dia beralasan, dia dan kaumnya tak pernah menyembah para pendeta dan rahib mereka. Tak pernah rukuk dan sujud kepada mereka. Tak pernah menganggap mereka sebagai tuhan. Namun, Rasulullah saw. segera menjelaskan:

بَلَى، إِنَّهُمْ حَرَّمُوْا عَلَيْهِمْ الْحَلاَلَ وَ أَحَلُّوْا لَهُمْ الْحَرَامَ، فَاْتَبِعُوْهُمْ، فَذَلِكَ عَبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ

“Memang (mereka tidak rukuk dan sujud kepada para pendeta dan para rahib mereka). Namun demikian, sungguh para pendeta dan para rahib mereka itu telah mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, lalu para pengikutnya pun mengikuti fatwa mereka. Itulah bentuk ibadah (penyembahan) mereka kepada para pendeta dan para rahib mereka.” (HR at-Tirmidzi).

Ma’asyiral Muslimin rh

Fakta hari ini berbicara. Banyak keharaman dihalalkan. Banyak pula perkara halal diharamkan. Tak jarang, semua itu dilegalkan oleh undang-undang. Lewat mekanisme demokrasi yang dibangga-banggakan.

Lihatlah. Bagaimana riba telah lama dihalalkan. Miras pun dilegalkan meski dibatasi peredarannya. Pelacuran dilokalisasi dengan alasan yang diada-adakan. Zina tak dipandang sebagai kejahatan. LGBT pun tak boleh dikriminalkan karena itu melanggar HAM.

Di sisi lain, syariah Islam seolah haram untuk diterapkan. Hanya karena satu tuduhan tak beralasan: bisa mengancam kebhinekaan. Demikian pula institusi penerap syariah, yakni Khilafah Islam, juga terlarang diperjuangkan. Bahkan tak boleh meski sekadar diwacanakan. Para aktivisnya mereka kriminalisasikan. Organisasinya mereka bubarkan. Dengan tuduhan yang diada-adakan. Padahal jelas, Khilafah adalah bagian penting dari ajaran Islam, yang wajib ditegakkan.

Ma’asyiral Muslimin rh

Ingatlah, bahwa tidaklah kita berpaling dari al-Quran kecuali kita akan selalu hidup dalam aneka kesempitan. Inilah yang juga Allah SWT tegaskan:

وَ مَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَ نَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَعْمَى

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan membangkitkan dia pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha [20]: 124) 

Karena itu pula, pada momen penting Idul Adha ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah. Dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim AS. Dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT.

Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna. Bahkan dengan kadar yang istimewa. Oleh Rasulullah SAW. Bukan hanya cinta. Bukan hanya taat. Bahkan beliau pun siap mengorbankan segalanya. Semata-mata demi meraih ridha-Nya. Bukan hanya waktu. Bukan hanya tenaga. Bukan hanya harta dan keluarga. Bahkan nyawa sekalipun beliau pertaruhkan demi tegaknya agama Allah SWT ini.

Cinta, ketaatan dan pengorbanan Rasulullah saw. ini lalu diwarisi oleh para Sahabat beliau. Juga generasi setelah mereka sepanjang masa Kekhilafahan Islam. Saat Khilafah mengemban Islam ke seluruh penjuru bumi. Atas jasa dan pengorbanan merekalah Islam bisa sampai ke berbagai negeri. Termasuk di Bumi Nusantara ini.

الله أكبر x3  و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin rh

‘Ala kulli hal. Inilah sesungguhnya esensi ibadah haji dan kurban. Kita diajari tentang cinta, ketaatan dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Kita pun diajari tentang keharusan untuk berkorban. Mengorbankan apa saja yang ada pada diri kita. Semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Karena itu dengan mengambil ibrah dan keteladanan berupa cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim AS. dan Rasulullah SAW., mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan keduanya, insya Allah, Islam akan kembali jaya. Kaum Muslim akan kembali menjadi mulia. Tentu saat mereka hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna. Di bawah naungan ridha Allah SWT.

Demi terwujudnya seluruh harapan di atas, marilah kita sama-sama bersimpuh. Mari sama-sama menundukkan kepala. Mari sama-sama melembutkan hati. Bermunajat kepada Zat Yang Mahasuci.    

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَهْلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، وَ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، وَ أَصْحَابِهِ الْكِرَامِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Ya Allah, Tuhan kami. Inilah hari yang penuh berkah dan keberuntungan. Hari ini berkumpul kaum Muslim. Memenuhi sudut-sudut bumi-Mu. Hadir di antara mereka pemohon, peminta dan perindu. Ada di tengah-tengah mereka yang kini merasakan ketakutan dan mengharapkan perlindungan-Mu.

Ya Allah, sekiranya pada hari ini, Engkau hanya menerima tobat orang-orang yang berserah diri dan mengakui segala dosanya, maka demi keagungan-Mu, kami berserah diri dan mengakui segala dosa kami.

Ya Allah, ya Tuhan kami. Jadikanlah ibadah haji saudara-saudara kami di Tanah Suci, haji yang mabrur, sa’i yang maqbul, dosa yang diampuni, amal shalih yang diterima dan usaha yang tak akan pernah merugi.

Ya Allah, angkatlah cobaan-Mu atas penduduk negeri ini. Selamatkan kami dari azab yang pedih, yang Engkau turunkan dari atas kami, atau dari bawah kami, atau dengan perpecahan di antara kami.

Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami. Perbaikilah keadaan kami. Tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan. Entaskanlah kami dari aneka kejahatan. Yang tampak maupun tersembunyi. Berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami dan hati-hati kami. Berkatilah istri-istri kami, anak-anak kami dan keluarga kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً، وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ بَصِّرْنَا بِدِيْنِكَ، وَوَفِّقْنَا لِاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَأَعِذْنَا مِنَ الْفِتَنِ كُلِّهَا، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّكَ  أَنْتَ السَمِيْعُ الْعَلِيْم .

اَلَّلهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ أَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

الَّلهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبةً قَبْلَ اْلَمْوتِ، وَشَهَادَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَ رِضْوَانَكَ وَ الْجَنَّةَ بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأَخِرَةِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَنَا وَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ وَ قَتَلَ  اْلمُؤْمِنِيْنَ، يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ وَ الْمُشْرِكِيْنَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَ يُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ، وَ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الظّالِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَ مَنْ نَصَرَ الإِسْلاَمَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

---------

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ، وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ، وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته.


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website